Sabtu, 19 November 2011

Malnutrisi pada Kanker

Malnutrisi pada KankerMalnutrisi adalah keadaan kekurangan atau kelebihan nutrisi. Pada pasien kanker, yang sering terjadi adalah kekurangan nutrisi. Menurut sebuah sumber, sejumlah 30-80% pasien kanker akan mengalami penurunan berat badan selama perjalanan penyakitnya. Di antara jumlah tersebut, 97,6%  membutuhkan penanganan nutrisi. Jika tidak ditangani, malnutrisi akan mengarah menjadi kakheksia, yaitu sebuah sindroma wasting ( pemecahan jaringan ) yang akan menimbulkan gangguan kekebalan tubuh, lemah dan penurunan berat badan, kehilangan jaringan lemak dan otot.
Menurut data publikasi National Cancer Institute Amerika Serikat, 20-40% pasien kanker meninggal akibat komplikasi malnutrisi, bukan akibat kanker itu sendiri. Masalah malnutrisi ternyata bukan hanya dialami oleh pasien kanker yang dirawat di dalam rumah sakit, tapi juga dialami oleh pasien rawat jalan karena telah ditemukan bahwa pasien rawat jalan pun sulit makan dalam jumlah yang cukup.
Mekanisme timbulnya malnutrisi pada pasien kanker bersifat multifaktorial, kompleks dan saling bertautan, yang dapat dibagi menjadi dua yaitu akibat langsung penyakit kanker itu sendiri dan akibat tidak langsung, antara lain komplikasi yang timbul dan akibat terapi penyakit kanker.
Berbagai penyebab malnutrisi pada pasien kanker antara lain:
• Penurunan asupan makanan
 - Kehilangan nafsu makan
 - Tidak mampu makan, akibat : gangguan mulut dan gigi geligi, sumbatan saluran pencernaan
• Meningkatnya kebutuhan nutrisi
 - Keadaan hipermetabolik yang dialami pasien kanker
 - Kebutuhan yang meningkat untuk melawan penyakit
• Meningkatnya pemecahan jaringan
  - Produksi zat penyebab inflamasi oleh jaringan kanker.
Malnutrisi pada pasien kanker akan menyebabkan gangguan kekebalan tubuh, gangguan penyembuhan luka, penurunan respon kemoterapi dan radioterapi, menimbulkan apati dan rasa lelah, dan penurunan kualitas hidup dan mengalami peningkatan komplikasi dan kematian.
Gejala dan Tanda
Secara umum, gejala dan tanda malnutrisi berkembang perlahan-lahan dan ditemukan melalui pemeriksaan penyapih ( skrining ) dan penilaian status gizi.
Pemeriksaan penyapih bertujuan untuk mencari resiko malnutrisi pada pasien yang tak menunjukkan gejala. Pemeriksaan ini akan membantu apakah pasien beresiko mengalami malnutrisi, dan bisa diambil langkah-langkah untuk mencegah malnutrisi.
Penilaian status gizi memeriksa status gizi pasien dan membantu menentukan apakah penanganan nutrisi dibutuhkan untuk mengatasi masalah nutrisi yang dialami pasien.
Gejala dan tanda malnutrisi yang mungkin timbul adalah  lelah, lemah, penurunan berat badan dan lingkar lengan atas, anemia, dan lain-lain.
Terapi Nutrisi
Setiap pasien kanker layaknya mendapatkan pemeriksaan status gizi yang bisa dilakukan oleh sebuah tim terpadu yang terdiri dari:
• Dokter
• Perawat
• Ahli gizi
Tim nutrisi terpadu akan memanfaatkan zat-zat gizi spesifik yang bermanfaat untuk pasien kanker dengan tujuan-tujuan di bawah ini:
• Mencegah atau mengatasi masalah nutrisi, termasuk mencegah kerusakan otot dan tulang
• Mengurangi efek samping terapi kanker
• Mempertahankan kekuatan dan energi pasien
• Membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi
• Meningkatkan efektivitas terapi
• Meningkatkan kualitas hidup.
Berbagai zat gizi spesifik yang bermanfaat untuk pasien kanker, antara lain:
• Protein
Sesuai dengan mekanisme timbulnya penurunan berat badan pada pasien kanker yaitu pemecahan jaringan otot, protein dalam asupan nutrisi pasien kanker akan  mengatasi kondisi pemecahan protein dan meningkatkan berat badan. Dengan tingginya laju katabolisme pasien kanker, semakin tinggi asupan protein pasien kanker, semakin baik. Di antara sekian banyak kontroversi yang ada mengenai jumlah asupan protein yang aman bagi pasien kanker, sebuah hasil penelitian jelas menyatakan bahwa pembatasan protein pasien kanker tidak mengubah komposisi atau laju pertumbuhan tumor, tapi mengurangi kesehatan pasien.
• Asam Amino Rantai Cabang
Asam Amino Rantai Cabang ( Branched Chain Amino Acid ) adalah sekumpulan asam amino esensiil yang bermanfaat untuk meningkatkan nafsu makan dan mengurangi pemecahan jaringan. BCAA ini pun akan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang akan membantu tubuh melawan infeksi.
• Omega 3
Omega 3 adalah asam lemak yang sangat baik untuk membantu mengurangi proses peradangan yang akan menyebabkan kerusakan sel dan penurunan berat badan.
• FOS
FOS adalah fruktooliogosakarida yang merupakan probiotik yang baik untuk menjaga kesehatan saluran cerna pasien kanker.
• Anti Oksidan
Anti Oksidan berguna untuk mencegah kerusakan oksidatif
• Mineral dan Vitamin
Pemberian mineral dan vitamin bertujuan untuk mencukupi kebutuhan multivitamin dan mineral yang sering defisit pada pasien kanker.
Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa status nutrisi pasien kanker memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien. Perburukan kualitas hidup dan penurunan angka kelangsungan hidup tidak hanya dialami oleh pasien malnutrisi berat, tapi juga oleh yang mengalami malnutrisi sedang.
Dengan terapi nutrisi yang memanfaatkan zat-zat gizi yang spesifik untuk pasien kanker, kondisi, respon terapi, efektivitas terapi dan kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan dan dipertahankan yang akan berujung pada peningkatan kelangsungan hidup pasien.

CAROLINE LAZUARDI

Senin, 07 November 2011

Deteksi Dini Kanker

Deteksi Dini KankerSalah satu masalah yang sering dihadapi dalam terapi kanker adalah kanker yang ditemukan sudah dalam stadium lanjut. Kanker stadium lanjut memiliki perilaku yang berbeda dari kanker stadium dini, dan akan menyulitkan usaha-usaha penyembuhan. Untuk meningkatkan harapan hidup pasien kanker, penderita kanker harus diterapi sedini mungkin. Oleh sebab itu, kanker perlu dikenali sedini mungkin. Makin dini diketahui, makin besar kemungkinan untuk menyembuhkannya. Oleh karena keluhan dan gejala baru muncul setelah beberapa tahun kanker tumbuh, maka kewaspadaan akan kanker perlu ditingkatkan dan pemeriksaan uji kanker secara rutin berkala dilakukan, terlebih bagi yang berisiko tinggi mengidap kanker. Bila ada salah satu orang tua apalagi keduanya, saudara kandung, kakek atau nenek yang mengidap kanker, individu tersebut perlu lebih waspada akan kemungkinan kanker.
Gejala atau ciri-ciri kanker sering tidak nyata pada saat-saat awal. Secara umum, perlu waktu yang cukup lama (beberapa tahun) sebelum muncul keluhan atau gejala kanker. Karena itu, lebih sering kasus kanker terlambat disadari karena keluhan dan gejala baru muncul setelah kanker mencapai stadium lanjut.
Keluhan dan gejala kanker sesuai dengan organ yang mengidapnya. Gejala kanker kandungan memunculkan keluhan sehubungan dengan fungsi organ reproduksi, antara lain gangguan haid. Kanker prostat muncul dengan gejala gangguan berkemih. Kanker usus muncul dengan keluhan gangguan buang air besar dan kelainan pada tinja.
Menurut Wan Desen (2008), setidaknya ada sepuluh tanda peringatan untuk tumor atau kanker yang menuju ke arah keganasan, yaitu:
1. Pada kelenjar payudara, kulit, lidah, atau bagian lain,  teraba benjolan yang tidak hilang.
2. Tahi lalat mengalami perubahan mencolok, misalnya warnanya berubah, ukurannya cepat bertambah besar, terasa gatal, rambutnya lepas atau mudah dicabut, keluar cairan, mudah berdarah.
3. Gangguan proses pencernaan yang berlangsung dalam waktu lama atau terus menerus dan tidak segera menghilang.
4. Waktu menelan terasa ada hambatan, nyeri, rasa tidak nyaman atau tidak enak di belakang tulang dada, terasa ada benda asing di kerongkongan, atau nyeri di ulu hati.
5. Telinga berdenging, pendengaran menurun, hidung tersumbat, mimisan, riak atau dahak yang dikeluarkan berdarah, sakit kepala (terus-menerus), benjolan di leher.
6. Perdarahan haid yang abnormal, di luar masa haid, atau di masa menopause timbul perdarahan melalui vagina yang tidak teratur, juga berdarah bila tersentuh.
7. Suara parau, batuk kering, batuk berdarah yang berkelanjutan atau terus menerus.
8. Tinja bercampur darah, lendir, atau diare (mencret), sembelit (sukar buang air besar) yang terjadi bergantian tanpa penyebab yang jelas; kencing bercampur darah (hematuria) yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik).
9. Luka yang tak kunjung sembuh, atau lama sekali sembuh.
10.Berat badan menurun tanpa penyebab yang jelas.
Jika Anda mengalami satu atau lebih dari gejala di atas, segeralah berkonsultasi pada dokter.
Dengan kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran, kini kita tidak perlu menunggu hingga muncul keluhan atau gejala kanker. Sekarang dengan pelbagai jenis pemeriksaan laboratorium darah dan dengan memeriksakan penanda tumor (tumor marker), banyak kasus kanker sudah bisa dikenali dalam stadium dini.
Berikut pelbagai uji penanda tumor (tumor marker):
•CEA (carcinoembryonic antigen): Untuk kanker usus besar, pankreas, paru, payudara, indung telur, kandung kemih, leukemia, gondok, tulang (Juga meningkat pada kehamilan, radang usus besar, polip dubur, tukak lambung, gagal ginjal, penyakit paru, kista payudara)
•AFP (Alpha-fetoprotein): Kanker hati, buah zakar, indung telur, lambung, pankreas, usus besar, payudara, ginjal, paru (Juga meningkat pada bayi dengan kelainan saraf, hepatitis virus, hamil kembar, aborsi)
•PSA (Prostate-specific antigen): Kanker prostat (Juga meningkat pada pembesaran jinak prostat, prostatitis (radang prostat)
•CA 19-9 (Carbohydrate antigen): Kanker pankreas, hati, paru, lambung, usus besar (Juga meningkat pada radang pankreas, radang kandung empedu, batu empedu, sirosis)
•CA 125: Kanker indung telur, leher rahim, pankreas, hati (Juga meningkat pada kehamilan, endometriosis, radang panggul, hepatitis, haid, penyakit paru, radang jantung, penyakit pencernaan)
•NSE: Bola mata, paru, pankreas, gondok, payudara, prostat, pencernaan, anak ginjal (Juga meningkat pada penyakit hati)
•BRCA-1 & 2: Kanker payudara dan indung telur
•EBV-EA IgA: Hidung dan tenggorokan
Munculnya keluhan dan gejala akan menuntun dokter untuk melakukan pemeriksaan. Mulai dari pemeriksaan fisik untuk menemukan adanya benjolan (tumor) dan pemeriksaan penunjang yaitu dengan bantuan foto rontgen, USG (ultrasonography), MRI (magnetic resonance imaging), CT-Scan (computerized tomography scanning), dan disusul dengan pemeriksaan laboratorium darah, urin, tinja, cairan otak, serta biopsi (mengambil serpihan jaringan pada bagian yang dicurigai kanker untuk kemudian diperiksa jenis selnya di bawah mikroskop).
Jika Anda mengalami satu atau lebih dari gejala di atas, segeralah berkonsultasi pada dokter.
Jangan biarkan kanker merenggut hidup kita!
Semakin cepat kita mengetahuinya, semakin besar harapan hidup kita!

Caroline Lazuardi

KESEHATAN MULUT OPTIMAL PADA KANKER

KESEHATAN MULUT OPTIMAL PADA KANKERMasalah pada rongga mulut sering ditemukan pada pasien kanker, terutama pasien yang mendapat radioterapi di daerah kepala dan leher, yang berkisar antara perubahan rasa makanan akibat gangguan indera pengecap, radang mukosa mulut (mukositis), sariawan (stomatitis), mulut kering (xerostomia), karies dan tanggalnya gigi, infeksi bakteri, virus atau jamur hingga gangguan asupan makanan. Selain gangguan organik, masalah pada rongga mulut juga menimbulkan beban sosial bagi pasien kanker. Secara keseluruhan, masalah pada rongga mulut, jika tidak ditangani dengan baik, akan menurunkan kualitas hidup pasien kanker.
Salah satu faktor penyebab masalah pada rongga mulut pasien kanker adalah berkurangnya produksi air liur (saliva). Fenomena ini disebabkan oleh gangguan pada kelenjar air liur akibat radioterapi pada daerah kepala dan leher dan atau akibat kemoterapi. Berkurangnya produksi kelenjar air liur ini dapat berlangsung sementara atau permanen dan jika tidak ditangani dengan baik, keadaan mulut yang kering (xerostomia) akan menimbulkan masalah serius pada rongga mulut dan gangguan fungsi mulut.
Saliva yang diproduksi terus menerus oleh 3 kelenjar liur pada mulut manusia bukan sekedar berfungsi sebagai lubrikan di dalam mulut. Saliva adalah cairan yang mengendalikan berbagai fungsi fisiologis yang penting di dalam mulut, antara lain untuk mempertahankan derajat keasaman (pH) yang netral, mengendalikan mikroflora dan fungsi restoratif di dalam rongga mulut. Di dalam mulut yang normal, aksi berbagai sistem pertahanan dalam saliva, antara lain peroksidase, laktoferrin, lisozim, immunoglobulin dan faktor pertumbuhan akan membantu mempertahankan pH netral dan menciptakan lingkungan di dalam mulut di mana pertumbuhan bakteri yang merugikan akan dihambat. 
Berkurangnya produksi saliva dan mulut yang kering akan menimbulkan berbagai masalah, antara lain mukositis, stomatitis, radang gusi (gingivitis), karies, infeksi bakteri, virus atau jamur, bau nafas tak sedap dan lain-lain.
GEJALA DAN TANDA XEROSTOMIA
Gejala dan tanda Xerostomia akan timbul setelah beberapa saat pasien mendapat radioterapi pada daerah kepala dan leher, mulai dari minggu pertama radioterapi. Seiring dengan waktu, gejala akan semakin jelas dan mulut pasien akan semakin kering sejalan dengan semakin besarnya kelenjar air liur yang rusak akibat paparan radioterapi.
Gejala dan tanda yang mungkin timbul antara lain :
• Selalu merasa haus
• Bau nafas tak sedap
• Sulit menelan makanan padat
• Terbangun di malam hari akibat mulut kering
• Noda lipstick di gigi (Lipstick sign)
• Kemerahan dan radang mukosa rongga mulut
• Rasa mulut terbakar
• Tanda infeksi jamur
• Karies gigi dan lain-lain

AKIBAT XEROSTOMIA
Berikut beberapa akibat yang dapat ditimbulkan oleh xerostomia pada pasien kanker:
• Mukositis dan atau stomatitis
• Radang gusi
• Karies gigi
• Gangguan indera pengecap
• Infeksi bakteri, virus atau jamur
• Berkurangnya asupan makanan

DIAGNOSIS XEROSTOMIA
Diagnosis Xerostomia dapat ditegakkan dengan pasti bila pada pasien-pasien dengan riwayat yang mendukung timbulnya Xerostomia, antara lain mendapat radioterapi daerah kepala dan leher dan atau mendapat kemoterapi, kita melakukan pengukuran volume produksi saliva yang dihasilkan ketiga kelenjar air liur dalam suatu periode waktu tertentu. Namun secara praktis, diagnosis xerostomia ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Setelah menegakkan diagnosis xerostomia, langkah selanjutnya adalah menentukan penyebab kausal dari xerostomia. Pada kasus-kasus xerostomia pada pasien kanker, jika penyebabnya adalah radioterapi dan/ kemoterapi, demi hasil terapi yang baik, radioterapi dan/ kemoterapi akan tetap dilanjutkan walau pasien mengalami xerostomia. Pada kasus-kasus seperti ini, langkah selanjutnya adalah mengatasi masalah rongga mulut yang sudah timbul dan melakukan tindakan pencegahan untuk mencegah timbulnya masalah lagi.

TERAPI XEROSTOMIA
Secara umum, prinsip terapi xerostomia bersifat simtomatik, yaitu terapi untuk mengurangi gejala yang timbul. Terapi yang bersifat kausal bisa dilakukan jika xerostomia disebabkan oleh obat-obatan yang bersifat sementara. Xerostomia yang timbul pada pasien kanker adalah akibat kerusakan kelenjar air liur akibat radioterapi dan/kemoterapi, dan kerusakan yang timbul dapat bersifat sementara atau permanen.
Beberapa modalitas terapi yang dapat digunakan untuk xerostomia:
•Silagogues gustatorik, antara lain : lemon, permen karet sorbitol, permen asam, dan sebagainya, yang berfungsi untuk merangsang produksi kelenjar air liur. Silagogues
gustatorik ini efektif untuk gangguan kelenjar air liur ringan, namun tidak berfungsi untuk gangguan sedang hingga berat.
•Silagogues farmakologik, antara lain pilokarpine. Mengingat pilokarpine ini harus diberikan secara permanen, pemberian pilokarpine harus mempertimbangkan potensi efek
samping yang mungkin timbul.
•Saliva substitusi. Pengganti saliva ini bersifat mirip dengan saliva sehingga dapat digunakan untuk jangka panjang, dan bermanfaat untuk gangguan sedang hingga berat. Saliva substitusi dibuat sesuai dengan komposisi saliva normal dan ditujukan untuk menggantikan fungsi saliva pada pasien-pasien xerostomia sedang hingga berat. Saliva substitusi ini mengandung zat-zat yang berfungsi sebagai sistem pertahanan dalam rongga mulut dan berbagai fungsi saliva lainnya. Sebuah produk saliva substitusi yang ada di Indonesia adalah BioXtra.
Sebagai  produk suportif kanker terbaru Kalbe Farma, BioXtra melengkapi rangkaian produk Kalbe Farma yang ditujukan untuk pasien kanker yang mengalami Xerostomia akibat radioterapi dan atau kemoterapi. BioXtra adalah rangkaian produk kesehatan mulut dengan formulasi unik yang telah dipatenkan oleh Lifestream Pharma di Belgia yang telah terbukti secara klinis mampu meringankan gejala dan tanda Xerostomia. Sebagai saliva substitute,  BioXtra Oral Gel dan Mouthspray dirancang untuk memberikan perasaan dan aksi kerja yang menyerupai saliva. Selain berfungsi sebagai lubrikan dan memberikan kelembaban, komponen lactoperoxidase, lactoferrin, kalsium dan fosfat dan faktor-faktor pertumbuhan dalam BioXtra memiliki fungsi antimikroba yang bersifat imun dan non-imun dan fungsi restoratif.
  
Produk kesehatan mulut yang inovatif ini memanfaatkan zat-zat alami dari susu, yaitu ekstrak kolostrum,  yang telah lama diketahui berkhasiat bagi kesehatan. Sebagai satu-satunya saliva substitute di Indonesia, 4 aksi kerja BioXtra yang unik dan telah dipatenkan akan memberikan rasa lembab dan kenyamanan, meningkatkan kesehatan mulut dan memberikan rasa segar.
BioXtra tersedia dalam dua sediaan, yaitu Oral Gel yang bertahan lama dan cocok digunakan untuk malam hari dan Mouthspray yang cocok bagi pasien yang aktif dan penggunaan siang hari.

Caroline Lazuardi

perikSA payuDAra sendiRI - SADARI

perikSA payuDAra sendiRI - SADARIHingga saat ini, kanker payudara masih menjadi momok yang menakutkan bagi wanita di seluruh dunia. Kanker payudara di Indonesia seringkali ditemukan dalam stadium lanjut dan sudah ganas sehingga upaya terapi pun seringkali menemui hambatan yang jelas akan mempengaruhi harapan hidup pasien. Mengingat hingga kini kita belum mengetahui penyebab pasti kanker payudara dan betapa sulitnya terapi kanker payudara stadium lanjut, yang wajib dilakukan semua wanita adalah deteksi kanker payudara secara dini. 
Usaha-usaha untuk mendeteksi kanker payudara secara dini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan pemeriksaan mandiri, pemeriksaan oleh dokter dan pemeriksaan penunjang, seperti dengan mammografi atau USG payudara. Pemeriksaan oleh dokter dan pemeriksaan penunjang tentunya harus didukung oleh ketersediaan fasilitas, tenaga dan alat medis yang cukup dan membutuhkan biaya. Di Indonesia, di mana jumlah fasilitas, tenaga dan alat medis tidak sebanding dengan jumlah rakyat, dan dengan keadaan ekonomi Indonesia yang masih tergolong dalam ”lower-income country” menurut PBB, jelas pemeriksaan oleh dokter dan pemeriksaan penunjang tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, pemeriksaan mandiri yang secara umum cukup mudah hingga bisa dilakukan oleh semua wanita, menjadi sebuah cara deteksi yang akan mampu menjaring kasus-kasus kanker payudara dalam stadium dini.
Pemeriksaan mandiri payudara secara rutin bisa dilakukan sebulan sekali, yaitu pada beberapa hari setelah menstruasi, ketika payudara kemungkinan besar sudah tidak membesar, terasa keras dan sakit. Sedangkan bagi wanita yang sudah menopause, pilihlah hari yang mudah diingat, misalnya tiap tanggal 1 atau 10 tiap bulan. Sebuah cara pemeriksaan mandiri disebut dengan SADARI ( perikSA payuDAra sendiRI ) yang cukup mudah dan bisa dilakukan oleh wanita segala usia. Apabila SADARI sudah menjadi kebiasaan, maka lama-lama kita akan mengenali struktur payudara sendiri sehingga bila ada suatu kelainan bisa segera diketahui. Bagi yang rajin mencatat, kondisi payudara tiap bulan bisa dicatat. Ini bisa menjadi semacam diari dan peta kondisi payudara setiap waktu. Jika pada SADARI dirasakan ada yang tidak normal atau aneh, wanita tersebut bisa segera mengunjungi dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
CARA MELAKUKAN SADARI
Langkah dalam melakukan SADARI, yaitu:
1.Mulailah dengan mengamati payudara di cermin dengan bahu lurus dan lengan di pinggang. Disini yang harus diamati adalah bentuk, ukuran dan warna payudara, karena rata-rata payudara berubah tanpa kita sadari. Perubahan-perubahan yang perlu diwaspadai adalah: berkerut, cekung ke dalam atau menonjol ke depan karena ada benjolan, puting yang berubah posisi dimana seharusnya menonjol keluar justru tertarik ke dalam, warna kulit memerah atau menjadi kasar dan terasa nyeri pada perabaan.
2.Kemudian angkat kedua lengan untuk melihat apakah ada kelainan pada kedua payudara.
3.Sementara masih di depan cermin, tekan puting apakah ada cairan yang keluar ( bisa berupa cairan putih seperti susu, kuning atau darah ).
4.Kemudian berbaringlah di permukaan yang keras. Saat melakukan pemeriksaan payudara kanan, letakkan bantal di bawah bahu kanan. Kemudian letakkan tangan kanan di bawah kepala. Ratakan jari-jari tangan kiri pada payudara kanan dan tekan secara lembut dengan gerakan memutar searah jarum jam. Mulailah pada bagian paling puncak payudara kanan ( posisi jam 12 ) lalu bergerak ke arah jam 10 dan seterusnya, sampai kembali ke posisi jam 12. Setelah itu pindahkan jari-jari kira-kira 2 cm mendekati puting. Teruskan gerakan memutar seperti sebelumnya hingga seluruh jaringan payudara, termasuk payudara, selesai diperiksa.  Tekan secara halus dengan jari-jari secara datar dan serentak. Selubungi payudara dengan jari dari arah atas sampai bawah, dari tulang selangka ke bagian atas perut, dari ketiak ke leher bagian bawah. Ulangi pola ini hingga yakin bahwa seluruh payudara telah diraba. Kini mulai pada puting. Buat lingkaran yang makin lama makin besar hingga mencapai seluruh tepi payudara. Menggunakan jari, buatlah gerakan ke atas dan ke bawah, berpindah secara mendatar/menyamping seperti sedang memotong rumput. Saat melakukan gerakan ini, rasakan seluruh jaringan payudara di bawah kulit dengan rabaan halus hingga rabaan yang sedikit lebih menekan. Teknik SADARI yang benar menggunakan buku jari dari ketiga jari tengah, bukan ujung jari. Yang perlu diperhatikan adalah perabaan harus dilakukan dengan sedikit penekanan. Penekanan yang berlebihan dapat menyebabkan tekanan pada tulang rusuk dan akan terasa seperti benjolan. 
5.Terakhir, rasakan payudara Anda ketika sedang duduk atau berdiri. Bagi kebanyakan wanita, paling mudah untuk merasakan payudaranya ketika payudaranya sedang basah dan licin, sehingga paling cocok adalah ketika sedang mandi di bawah pancuran. Lakukan seperti pada langkah ke 4 dan yakinkan bahwa seluruh payudara telah teraba oleh rabaan.
SADARI tiap bulan dan pemeriksaan oleh ahli dan mammografi tiap tahun sangat bermanfaat untuk menemukan kanker payudara dalam stadium dini. Dengan SADARI, Anda membantu diri Anda sendiri dengan menemukan  kanker payudara secara dini.


Caroline Lazuardi

Selasa, 01 November 2011

Aktivitas SOD pada pasien kusta

Aktivitas SOD pada pasien kustaPertahanan utama terhadap infeksi mikroba adalah sistem makrofag. Pembunuhan mikroba oleh makrofag dikaitkan dengan dihasilkannya radikal bebas yang disebut ROS (reactive oxygen species), seperti anion superoxide, hydrogen peroxide, dan hydroxyl. ROS ini dapat merusak lipid, protein, dan nucleic acid.

Target utama peroksidasi adalah PUFA (polyunsaturated fatty acid) dalam lipid membran dan PUFA didegradasi oleh radikal bebas membentuk MDA (malondialdehyde) yang dapat bertindak sebagai petanda kerusakan seluler.

Sel mempunyai mekanisme untuk menangkal radikal bebas dan meminimalkan cedera jaringan. Antioksidan seperti SOD (superoxide dismutase), katalase, dan antioksidan nutrisional dapat memerangkap radikal bebas dan bertindak sebagai sistem scavenging radikal bebas. Jika terjadi ketidakseimbangan antara pembentukan radikal bebas dengan penangkalnya, maka dapat menyebabkan kondisi yang disebut stres oksidatif yang dapat menyebabkan kelainan metabolik dan kematian sel. Rasio MDA/SOD dapat dipertimbangkan sebagai indeks stres oksidatif.

Suatu studi telah dilakukan untuk meneliti indeks stres oksidatif pada kusta/lepra pausibasiler dan multibasiler dalam jaringan dan darah.

Kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium kustae yang menyerang sistem saraf perifer, kulit dan jaringan tertentu lainnya. Penyakit ini dapat menyebabkan deformitas yang luas dan permanen pada kulit dan saraf perifer,
sehingga dapat timbul kecacatan yang berat dan irreversible.

WHO membagi penyakit kusta menjadi 2 jenis yaitu pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB). Disebut kusta pausibasiler jika BTA negatif, sedangkan kusta multibasiler jika BTA positif.

Studi dilakukan pada 14 pasien PB yang tidak diterapi, 18 pasien MB yang tidak diterapi, dan 20 sukarelawan normal. Dalam studi tersebut diukur aktivitas SOD, kadar MDA, dan rasio MDA/SOD baik di dalam darah maupun di dalam jaringan.

Hasilnya menunjukkan bahwa dibandingkan dengan kontrol, aktivitas SOD dalam jaringan menurun secara bermakna pada pasien PB dan MB, sedangkan aktivitas SOD dalam eritrosit hanya menurun secara bermakna pada pasien MB. Sebagai tambahan, kadar MDA dalam jaringan meningkat secara bermakna baik pada pasien PB maupun pasien MB.

Labih lanjut, kadar MDA dalam plasma rata-rata pada pasien MB secara bermakna lebih tinggi, sedangkan pada pasien PB, tidak terdapat perbedaan yang bermakna.

Studi tersebut menunjukkan peningkatan indeks stres oksidatif (rasio MDA/SOD) yang bermakna pada jaringan pasien PB dan MB, serta dalam darah pasien MB. Sedangkan indeks stres oksidatif dalam darah pasien PB tidak berbeda bermakna dibanding dengan kontrol.

Dari hasil studi tersebut disimpulkan bahwa stres oksidatif ditemukan pada jaringan dan darah pasien MB dan pada jaringan pasien PB, hal ini menunjukkan keterlibatan yang penting dari stres oksidatif dalam patogenesis kusta, dan dapat menjadi alat penting dalam prognosis, pengobatan dan pengendalian kusta.

Studi sebelumnya juga telah menilai stres oksidatif pada pasien kusta dengan mengukur kadar enzim antioksidan (SOD), produk peroksidasi lipid (MDA), dan rasio MDA/SOD pada pasien kusta PB dan MB pada 58 pasien kusta yang tidak diterapi (23 kasus PB dan 35 kasus MB) yang dibandingkan dengan 58 kontrol sehat.

Hasilnya menunjukkan bahwa kadar SOD menurun pada pasien kusta, khususnya pada kusta MB, kadar MDA meningkat pada pasien PB dan MB, dan rasio MDA/SOD meningkat secara bermakna pada pasien MB.

Jadi disimpulkan bahwa terdapat peran yang bermakna dari stres oksidatif pada pasien kusta, khususnya kusta MB. Hal ini mendukung penggunaan antioksidan untuk mencegah kerusakan jaringan dan deformitas pada pasien kusta.

EKM (KF)

Kamis, 27 Oktober 2011

Zat Kimia yang Menyebabkan Obesitas

Zat Kimia yang Menyebabkan ObesitasTiga penelitian yang dilaporkan dalam Kongres Obesitas Eropa di Jenewa menemukan tikus yang dalam masa pertumbuhannya didekatkan dengan peralatan dari zat-zat kimia terbukti menjadi gemuk.

Penelitian pertama dilakukan terhadap tikus betina yang induknya pada saat hamil banyak kontak dengan bisphenol (zat untuk membuat kotak plastik atau botol minuman) tumbuh menjadi tikus gemuk.

Penelitian kedua tikus-tikus hamil yang didekatkan dengan perfluorooctanoic acid (zat untuk kotak pembungkus popcorn). Induk tikus itu melahirkan anaknya berukuran normal, namun akan kegemukan saat dewasa.

Penelitian ketiga, tikus hamil yang didekatkan dengan tributylin, zat kimia untuk plastik pembungkus makanan, akan menghasilkan keturunan yang gemuk saat dewasa.

Jika penelitian itu juga terbukti bagi manusia, yang harus dilakukan bukan mengurangi berat badan saat dewasa, melainkan mencegah kontak dengan produk yang mengandung zat kimia itu.


NFA (KF)

Kamis, 06 Oktober 2011

Lights Off

Sekitar jam 19.30 terlihat di hp saya. Saya berjalan pulang setelah seharian bekerja penuh lelah, terlebih mata saya yang seharian berhadapan dengan komputer. Jalan terlihat remang karena hanya di sinari lampu jalanan redup yang berjarak cukup jauh satu sama lainnya. Banyak anak-anak kecil berekspresi gembira melakukan kegiatan seusia mereka pada umumnya. Berlari, bermain petak umpet atau sekedar duduk-duduk di pinggir jalan. Rasa lelah saya pun hilang seperti tersedot oleh tawa-tawa mereka.

Saya melewati mereka. Lupakan, hati saya berkata. Mereka sudah di belakang saya. Suasana hati saya berubah ketika melihat di depan saya seorang ibu tua yang kurus, memakai kebaya yang sudah kumal, sedang menumpuk-numpuk tanah. Terlihat kontras dengan apa yang baru saja saya lihat dari anak-anak yang penuh gembira tadi. Saya perhatikan ibu tua itu dengan seksama. Apa yang dia lakukan disini? Oh mungkin ibu tua ini terganggu kejiwaannya, pikir saya dalam hati.

Kebetulan saya membawa sebungkus nasi, lauk dan pisang. Tanpa ragu saya pun berikan ke ibu tua itu. Tapi alangkah terkejutnya saya ketika dia mengucapkan terima kasih. Ucapan itu menunjukkan kalau ibu tua itu bukanlah orang yang terganggu kejiwaannya melainkan orang normal pada umumnya. Hanya dia kurang beruntung. Miris hati saya melihat kenyataan itu. Sorang ibu tua yang mungkin tanpa sanak saudara dan cucu, yang seharusnya seusia dia menikmati sisa hidup di kursi dengan pijatan dari tangan-tangan lembut dari cucunya.

Indonesia..indonesia...Katanya negara subur, negara kaya. Tapi kenapa masih ada cerita seperti ibu tua di atas. Mengenaskan!



Protein Nanopartikel untuk Penyembuhan Luka Kronis

Protein Nanopartikel untuk Penyembuhan Luka KronisPara ilmuwan telah mengembangkan obat baru dengan biaya rendah dan berukuran nanometer untuk mengobati luka kronis termasuk diabetes atau luka bakar. Peneliti di Universitas Hebrew di Jerusalem dan Harvard Medical School diketuai Yaakov Nahmias, ilmuwan bioteknologi melakukan rekayasa genetika untuk menghasilkan protein robotic yang merespons suhu.

Sirkulasi darah yang buruk akibat diabetes sering mengakibatkan luka kulit yang tidak sembuh, menimbulkan rasa sakit, infeksi, dan bisa berujung pada amputasi.

Beberapa jenis protein, yang disebut faktor pertumbuhan, telah ditemukan untuk mempercepat proses penyembuhan, sesuai dengan laporan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi Februari 2011.

Namun, pemurnian protein ini terbilang mahal dan mereka tidak bertahan lama pada luka, menurut pernyataan peneliti Harvard.

Mengapa suhu? Karena peningkatan suhu menyebabkan puluhan protein ini bergabung atau seperti terlipat ke dalam nanopartikel yang ukurannya 200 kali lebih kecil daripada sehelai rambut.

Proses ini sangat menyederhanakan pemurnian protein sehingga sangat murah untuk diproduksi. Ini juga memungkinkan bagi protein tersebut untuk tetap berada pada luka bakar.

Kini, obat ini masih dikembangkan peneliti sebagai percobaan. Tapi, telah dipatenkan dan telah digunakan untuk mengobati luka kronis pada tikus penderita diabetes. Pada tikus, obat ini secara dramatis mampu meningkatkan penyembuhan. Menurut rencana, uni coba kilinis akan dilanjutkan dan dilakukan terhadap manusia setelah menjalani beberpa evaluasi.
 
 
NFA, KF

Paparan Testosteron Berkadar Tinggi di Rahim bisa Meningkatkan Risiko Autisme pada Bayi

Paparan Testosteron Berkadar Tinggi di Rahim bisa Meningkatkan Risiko Autisme pada BayiSebuah studi yang dilakukan Profesor Fiona Stanley dari Institut Telethon Australia menemukan bahwa paparan testosteron berkadar tinggi di rahim bisa meningkatkan risiko autisme pada bayi.

Ditemukan pula bahwa anak perempuan dengan gejala autis di usia 2 tahun akan mengalami haid pertama mereka enam bulan lebih awal. Hasil itu diketahui setelah dilakukan penelitian terhadap 383 anak perempuan yang tidak didiagnosis dengan autisme. Saat berusia 2 tahun, setiap anak diberikan penilaian perilaku autistik seperti menghindari tatapan orang lain.

"Penemuan ini menunjukkan bahwa paparan testosteron dalam kandungan berperan dalam mengatur perilaku, baik autis maupun usia pertama kali haid.," kata ketua tim peneliti Andrew Whitehouse. Ia menambahkan, hasil ini mendukung teori bahwa autisme merupakan gangguan perilaku dan bentuk ekstrem dari kejiwaan laki-laki.

"Autisme sebenarnya merupakan suatu kondisi yang didominasi kaum laki-laki. Terhitung, perbandingan penderita laki-laki dan perempuan yakni 4:1," katanya, seperti dikutip The Australian.

Namun, pada perempuan, penyebabnya dimungkinkan adalah kadar hormon laki-laki yang terlalu banyak yang dalam hal ini yang paling aktif secara biologis adalah testosteron." Tim Whitehouse pun kini berencana mengadakan studi pertama guna mengidentifikasi kaitan antara hormon dan kecenderungan autisme itu.

NFA, KF