Senin, 19 September 2011

Perempuan dengan Koinfeksi HIV/HCV Lebih Mungkin untuk Menghentikan Terapi HCV

Perempuan dengan Koinfeksi HIV/HCV Lebih Mungkin untuk Menghentikan Terapi HCV 
Perempuan dengan koinfeksi HIV/hepatitis C lebih mungkin mengalami efek samping yang mengarah pada penghentian atau modifikasi terapi hepatitis C, para peneliti AS melaporkan dalam Journal of Acquired Immune Deficiency Syndrome.

Para peneliti melakukan meta-analisis dari tiga studi besar (ACTG A5071, APRICOT, dan ARNS HC02 RIBAVIC) yang memeriksa keamanan dan kemanjuran pengobatan hepatitis C pada pasien koinfeksi.

Mereka menemukan bahwa meskipun laki-laki dan perempuan mengalami berbagai efek samping yang sama, perempuan lebih mungkin untuk menghentikan atau mengubah terapi hepatitis C. Selain itu, perubahan pengobatan terjadi lebih dini pada perempuan. Jenis ART dikaitkan dengan penghentian atau modifikasi terapi.

“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa perempuan terinfeksi HIV yang menggunakan terapi hepatitis C mengalami lebih banyak efek samping yang membutuhkan penghentian pengobatan”, komentar para peneliti. “Rejimen ARV mungkin merupakan prediktor penting penghentian pengobatan dan harus lebih dieksplorasi sebagai prediktor efek samping dalam percobaan koinfeksi HIV/HCV,” mereka menambahkan.

Banyak pasien HIV-positif yang memiliki koinfeksi dengan hepatitis C, dan penyakit hati terkait hepatitis C merupakan penyebab penting kematian pada pasien ini.

Hanya sebagian kecil pasien dengan infeksi kronis menanggapi terapi hepatitis C, dan banyak yang tidak menyelesaikan pengobatan mereka karena efek samping.

Menentukan faktor yang terkait dengan peristiwa efek samping dan penghentian pengobatan yang timbul dari mereka dapat membantu dokter untuk memberikan dukungan yang tepat untuk pasien mereka.

Sudah diketahui sebelumnya bahwa perempuan yang hanya terinfeksi hepatitis C lebih mungkin untuk menghentikan pengobatan. Selain itu, tingginya tingkat penghentian pengobatan terlihat pada perempuan HIV-positif yang diobati dengan beberapa obat antiretroviral.

Oleh karena itu peneliti melakukan meta-analisis dari tiga besar uji coba pengobatan hepatitis C yang melibatkan pasien koinfeksi untuk melihat apakah jenis kelamin terkait dengan peningkatan risiko penghentian atau modifikasi pengobatan.

Penelitian ini dilakukan antara tahun 2000 dan 2003 dan melibatkan total 1.376 individu, 288 (21%) diantaranya adalah perempuan.

Secara signifikan lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki (24% vs 16%, p = 0,003) berhenti pengobatan secara dini karena efek samping.

Efek samping seperti demam, malaise dan masalah gastrointestinal merupakan alasan utama untuk penghentian pengobatan (74%), tetapi 18% berhenti menggunakan terapi hepatitis mereka karena masalah neuropsikiatri.

Walaupun perempuan lebih mungkin untuk menghentikan terapi dibandingkan pria karena efek samping, frekuensi dari efek samping adalah sebanding antara laki-laki dan perempuan.

Faktor yang secara signifikan terkait dengan penghentian pengobatan karena efek samping termasuk indeks massa tubuh lebih rendah untuk laki-laki (p = 0,04), dan pengobatan dengan NNRTI bagi perempuan (p = 0,03). Peningkatan usia juga secara bermakna dikaitkan dengan penghentian pengobatan (p <0,0001).

Perempuan juga lebih mungkin dibandingkan pria untuk mengalami efek samping yang mengarah pada modifikasi terapi hepatitis C (61% vs 48%). Terapi antiretroviral yang meliputi AZT secara bermakna terkait dengan modifikasi pengobatan pada perempuan (p = 0,002).

Pengobatan dengan NNRTI efavirenz telah dikaitkan dengan efek samping neuropsikiatri. Konsentrasi dalam darah yang tinggi dari obat ini telah terlihat pada kelompok perempuan. Para peneliti berpendapat bahwa hal ini mungkin menjelaskan mengapa terapi dengan NNRTI dikaitkan dengan penghentian pengobatan pada perempuan.

Demikian pula, penelitian sebelumnya telah menemukan peningkatan kadar AZT pada perempuan, mungkin menjelaskan hubungan antara pengobatan dengan obat ini pada perempuan dan modifikasi pengobatan.

“Perempuan lebih mungkin mengalami efek samping, mengarah ke modifikasi dosis pengobatan hepatitis C dosis dan penghentian dalam pengaturan koinfeksi virus HIV/HCV,” para peneliti menyimpulkan, “perempuan yang menggunakan rejimen NNRTI lebih mungkin untuk menghentikan terapi, dan perempuan yang menggunakan rejimen yang mengandung AZT lebih cenderung membutuhkan modifikasi dosis.”

NFA, KF

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar