Tim peneliti ini menginvestigasi terapi mana yang paling baik sebagai terapi paliatif disfagia, apakah kombinasi APC dengan brakiterapi high dose rate (HDR), kombinasi APC plus PDT, atau APC saja? Untuk itu, mereka melakukan penelitian pada 93 pengidap kanker esofagus, 82 di antaranya dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok perlakuan tersebut. Hasilnya, median periode bebas disfagia terlapor paling lama pada kelompok APC plus HDR (88 hari), diikuti kelompok APC plus PDT (59 hari), dan paling singkat pada kelompok APC (kontrol) saja (35 hari). Periode kekambuhan disfagia tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok terapi kombinasi, tetapi kedua kelompok terapi kombinasi secara bermakna lebih baik dibanding kelompok kontrol. Interval median antar-prosedur rekanalisasi "penyelamatan" ulang secara bermakna lebih panjang pada kelompok APC plus HDR (10,9 minggu) dan kelompok APC plus PDT (8 minggu) dibanding kelompok kontrol (4,7 minggu), tetapi tidak ada perbedaan bermakna dalam jumlah prosedur per pasien.
Ketahanan hidup secara keseluruhan tidak berbeda bermakna antar-kelompok perlakuan. Kualitas hidup awalnya terlapor membaik pada semua kelompok perlakuan, tetapi menurun selama 30 hari berikutnya. Kualitas hidup tetap secara bermakna lebih baik pada kelompok APC plus HDR dibanding kedua kelompok lainnya. Tingkat ketidaknyamanan terkait prosedur rekanalisasi setara pada semua kelompok, dan satu-satunya komplikasi mayor adalah demam, yang dialami oleh 3 pasien kelompok APC plus PDT.
"Kami memilih kombinasi APC plus brakiterapi HDR sebagai pendekatan terapi paliatif utama bagi pasien-pasien dengan obstruksi esofagus maligna," dr. Zagorowicz menyimpulkan. Namun, sebenarnya ada metode terapi lain, yang kebetulan tidak ikut diteliti dalam studi ini, yaitu pemasangan stent pada esofagus menggunakan stent logam yang bisa mengembang sendiri (self expanding metal stent, SEMS); metode terapi ini juga merupakan sebuah alternatif yang baik untuk menghasilkan pemulihan disfagia dengan cepat. Namun, masih diperlukan studi perbandingan lebih lanjut antara penggunaan peralatan modern untuk brakiterapi dan tipe-tipe stent yang paling mutakhir. Unit endoskopi yang berurusan dengan kanker esofagus harus berupaya mendapatkan akses, sambil menimba pengalaman, ke semua metode ablasi dan rekanalisasi yang tersedia. Dengan demikian, dapat dipilih pendekatan terapi yang terbaik bagi masing-masing pasien.
Sumber : Kalbe Farma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar