Respiratory fluoroquinolone memiliki 3 keunggulan, yaitu (1) S. pneumoniae jarang dilaporkan resisten terhadap respiratory fluoroquinolone, (2) respiratory fluoroquinolone memiliki aktivitas terhadap patogen atipikal (seperti Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, dan Legionella pneumophila), dan (3) respiratory fluoroquinolone dapat diberikan sebagai switch therapy. Fluoroquinolone monotherapy dan kombinasi beta-lactam/macrolide berkaitan dengan ketahanan hidup yang lebih tinggi dibandingkan beta-lactam monotherapy. Panduan terkini merekomendasikan respiratory fluoroquinolone karena aktivitasnya terhadap S. pneumoniae dan tingginya resistensi S. pneumoniae terhadap ciprofloxacin.
Sebagian besar studi menunjukkan mortalitas yang sebanding antara monoterapi fluoroquinolone dan kombinasi beta-lactam+macrolide. Selain itu, beberapa studi menunjukkan bahwa monoterapi fluoroquinolone berkaitan dengan lama rawat inap yang lebih pendek dibandingkan kombinasi beta-lactam/macrolide, terutama pada pneumonia berat atau terapi dengan dosis yang lebih tinggi. Pada pasien CAP yang mendapat levofloxacin 500 mg, 1 kali sehari dan pasien yang mendapat moxifloxacin 400 mg, 1 kali sehari selama 7-14 hari, terungkap mortalitasnya sebanding (p = 0,5), demikian pula dengan pemberian levofloxacin 750 mg sekali sehari vs levofloxacin 500 mg sekali sehari (p = 0,5).
Simpulannya, respiratory fluoroquinolone direkomendasikan oleh beberapa guideline untuk terapi CAP. Keunggulan respiratory fluoroquinolone terletak pada aktivitasnya terhadap S. pneumoniae resisten-obat, aktivitasnya terhadap patogen atipikal, dan dapat dilakukannya switch therapy. Namun, data yang ada masih belum cukup untuk menarik simpulan mengenai pengaruh golongan obat ini terhadap mortalitas pasien CAP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar