Studi case control tahun 2009 dari the National Birth Defects Prevention Study menunjukkan bahwa nitrofurantoin dan sulfonamide berkaitan secara bermakna dengan banyak defek/kelainan saat lahir, sementara penicillin, erythromycin, cephalosporin, dan quinolone tidak. Namun, peneliti tersebut mencatat bahwa studi-studi lain tidak menemukan risiko defek saat lahir pada populasi lain atau ketika menggunakan metode epidemiologi lain. Peneliti juga menyampaikan bahwa antibiotik sebaiknya diberikan pada wanita hamil dengan indikasi yang tepat dan durasi sesingkat mungkin. Disampaikan pula bahwa banyak kultur urine menunjukkan kontaminan bakteri sehingga tidak merepresentasikan infeksi yang sesungguhnya. Namun, yang penting adalah para medis sebaiknya mempertimbangkan benefit serta potensi risiko teratogenesis dan efek samping pada ibu hamil.
Para peneliti menyatakan bahwa pemberian sulfonamide atau nitrofurantoin pada trimester pertama kehamilan masih dianggap sesuai bila tidak tersedia alternatif antibiotik lain yang sesuai. Perhatian disampaikan oleh para peneliti bahwa ibu hamil sebaiknya tidak ditunda pemberian antibiotiknya karena dapat mengakibatkan komplikasi yang serius pada ibu dan janin. Salah satu antibiotik golongan sulfonamide adalah sulfamethoxazole. Menurut guideline EAU 2010 untuk sistitis dan bakteriuria asimtomatik dalam kehamilan, antibiotik trimethoprim sebaiknya dihindari pemberiannya pada trimester pertama kehamilan dan sulfamethoxazole sebaiknya dihindari pada trimester ketiga kehamilan.
Jadi, sulfonamide dan nitrofurantoin mungkin diberikan pada trimester pertama kehamilan bila tidak terdapat antibiotik alternatif lain dan pada trimester kedua dan ketiga kehamilan sebagai lini pertama. Antibiotik sebaiknya diberikan pada infeksi saluran kemih selama kehamilan mengingat komplikasi infeksi saluran kemih pada ibu dan janin.
Kalbe Farma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar