Pilihan terapi yang potensial ialah dengan memberikan jeda antara pemberian terapi sasaran (targeted therapy) dan nefrektomi sitoreduktif. Strategi ini dapat mengecilkan ukuran tumor sebelum pembedahan dilakukan dan mengidentifikasi pasien dengan penyakit yang progresif cepat, sehingga pasien bersangkutan tidak perlu dibedah dan boleh jadi perlu di-switch ke terapi sistemik lainnya. Namun, ada kekhawatiran bahwa "pengistirahatan" terapi selama pembedahan, kurang lebih selama 1 bulan, akan menyebabkan tumor rebound dan menimbulkan efek merugikan. Karena itu, tim peneliti menganalisis outcome dari dua uji klinis fase II yang menyelidiki manfaat sunitinib secara langsung. Pada kedua uji tersebut, sunitinib diberikan selama 12-16 minggu sebelum nefrektomi pada total 66 pasien kanker ginjal jenis clear-cell.
Sunitinib dihentikan selama (median) 29 hari dalam periode perioperatif. Semasa pengistirahatan terapi, 17 pasien dilaporkan mengalami progresi tumor, tetapi 13 di antaranya kembali stabil begitu sunitinib dimulai lagi. Meskipun demikian, progresi ini tetap menjadi sebuah kekhawatiran mengingat kondisi tersebut bisa memudahkan terjadinya resistansi sunitinib. Ketahanan hidup secara keseluruhan adalah 15,2 bulan. Jika dibuat stratifikasi berdasarkan risiko, ketahanan hidup hanya selama 9,0 bulan pada pasien-pasien yang tergolong kelompok risiko tinggi, tetapi jauh lebih lama pada mereka yang termasuk kelompok risiko sedang (26,0 bulan; p <0,01). Para peneliti menganggap hasil ini sebagai temuan yang menguatkan temuan uji klinis pivotal fase III terdahulu, yang memperlihatkan bahwa ketahanan hidup pasien dalam kelompok risiko sedang (sebagian besar pasien sudah menjalani nefrektomi) ialah 20,7 bulan. Pada studi saat ini, progresi penyakit sebelum nefrektomi merupakan salah satu faktor risiko independen untuk prognosis yang buruk, sebagaimana terhitung pada analisis multivariat (hazard ratio 5,34).
Simpulannya, meskipun angka progresi terbilang tinggi selama pengistirahatan terapi menjelang pembedahan (nefrektomi), ketahanan hidup keseluruhan dengan pendekatan ini ternyata sejalan dengan temuan uji pivotal sebelumnya. Bagaimana pun, pendekatan ini belum bisa dikatakan bermanfaat selama belum dilakukan randomized controlled trial (RCT).
Sumber : Kalbe Farma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar