Hasil studi menunjukkan bahwa jumlah eksaserbasi setelah 3 bulan terapi pada kelompok azithromycin lebih rendah secara bermakna dibandingkan pasien dengan perawatan standar (p = 0,001) dan jumlah rawat inap pada kelompok azithromycin lebih rendah secara bermakna dibandingkan pasien dengan perawatan standar (p = 0,02). Azithromycin secara bermakna memperbaiki kualitas hidup pasien dibandingkan yang hanya mendapat perawatan standar. Tidak dijumpai efek samping yang berat pada kelompok azithromycin.
Sebuah uji klinik (tersamar ganda, prospektif, dengan kontrol plasebo) juga dilakukan oleh dr. Albert dkk. baru-baru ini untuk menilai potensi antibiotik macrolide pada PPOK. Pasien mendapatkan azithromycin 250 mg (n= 558) dan plasebo (n= 559) satu kali sehari selama 1 tahun. Hasilnya memperlihatkan bahwa azithromycin mengurangi frekuensi eksaserbasi PPOK secara bermakna (p =0,004), tetapi menimbulkan efek samping berupa penurunan pendengaran yang lebih besar secara bermakna (p=0,022). Walaupun penurunan pendengaran bermakna secara statistik, rata-rata perubahan desibel yang terjadi sangatlah kecil, 0,7 desibel pada kelompok azithromycin.
Simpulannya, pemberian azithromycin sekali sehari dalam jangka panjang secara bermakna menurunkan eksaserbasi pada pasien PPOK. Namun, terapi dengan azithromycin ini juga berkaitan dengan peningkatan efek samping (penurunan pendengaran) yang bermakna. Dengan demikian, pemantauan fungsi pendengaran sebaiknya dilakukan selama pemberian azithromycin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar