Sebanyak empat puluh delapan pasien dengan stroke iskemik non-lakunar yang pertama secara berturut-turut diikutsertakan di dalam penelitian dalam 12 jam sejak pertama serangan. Pasien menerima pengobatan dengan citicoline 2000 mg/hari (n=26) atau tidak menerima pengobatan (plasebo) (n=22) untuk fase akut stroke iskemik selama 6 minggu. Koloni EPC dihitung sebagai colony forming unit-endothelial cell (CFU-EC) dini pada saat mulai pengobatan dan pada hari ke-7. Peneliti mendefinisikan peningkatan EPC selama minggu pertama sebagai perbedaan jumlah dari CFU-EC antara hari ke-7 dan saat mulai pengobatan.
CFU-EC pada awal pengobatan sama pada setiap pasien pada kelompok pengobatan citicoline dan kelompok non-pengobatan (7,7 + 7,3 CFU-EC, p=0,819). Namun demikian, pasien yang diterapi dengan citicoline dan recombinant tissue-plasminogen activator (r-TPA) memperlihatkan peningkatan EPC yang lebih besar dibandingkan dengan pasien yang hanya diterapi dengan citicoline atau yang tidak diobati (35,4 + 15,9 versus 8,4 + 8,1 versus 0,9 + 10,2 CFU-EC, P<0,0001). Dalam model logistik, pengobatan citicoline [odds ratio (OR), 17,6; confidence interval (CI) 95%v 2,3-137,5; P=0,006] dan pengobatan bersamaan dengan citicoline dan r-TPA (OR, 108,5; CI 95% 2,9 - 1094,2; P=0,001) secara bebas berkaitan dengan peningkatan EPC > 4 CFU-EC.
Dan kesimpulan dalam studi tersebut bahwa pemberian citicoline dan pemberian citicoline bersama dengan r-TPA dapat meningkatkan konsentrasi EPC pada stroke iskemik akut.
kf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar