Tujuan studi cross-sectional ini ialah mencari tahu kebenaran hipotesis bahwa ibu hamil dan menyusui yang berpenghasilan rendah tidak mampu memenuhi kebutuhan asupan DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid) serta mengetahui keterkaitan antara faktor demografik dan pengukuran konsumsi DHA dan EPA. Studi dilangsungkan dari bulan September 2007 sampai Maret 2008, menggunakan Omega-3 Fatty Acid Food Frequency Questionnaire dalam penilaian diet pada 68 ibu hamil/menyusui. Dalam studi ini, terdapat pengecualian bagi wanita yang alergi terhadap jenis makanan laut (seafood). Konsumsi DHA plus EPA bulanan dari berbagai sumber makanan diukur, dan dilakukan pula penilaian terhadap ras, etnisitas, asal daerah/negara, tingkat pendidikan, status perkawinan, dan asupan vitamin prenatal yang mengandung DHA+EPA; peringatan terhadap toksisitas ikan juga dilakukan. Data dianalisis menggunakan analisis 1-way of variance serta t-tests.
Hasil studi menunjukkan bahwa asupan DHA plus EPA rata-rata adalah 1,18 gram/bulan pada seluruh ras/etnis. Populasi Afrika-Amerika lebih banyak mengonsumsi DHA plus EPA, yakni 2,79 gram/bulan, dibandingkan dengan populasi Hispanik (1,64 gram/bulan) maupun Kaukasia (0,93 gram/bulan). Penduduk asli Amerika Serikat diketahui mengonsumsi DHA plus EPA lebih banyak dari imigran (2,45 gram/bulan berbanding 1,55 gram/bulan).
Simpulannya, ibu hamil dan menyusui yang berpenghasilan rendah di Amerika serikat mengonsumsi DHA plus EPA lebih sedikit dari jumlah asupan yang dianjurkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar