Jumat, 16 September 2011

Inilah Posisi Tubuh Terbaik Bekerja di Depan Komputer

Inilah Posisi Tubuh Terbaik Bekerja di Depan Komputer Bila Anda menghabiskan banyak waktu untuk bekerja berhadapan dengan komputer, cobalah periksa posisi monitor. Posisi duduk berhadapan dengan komputer yang kurang sesuai dapat menyebabkan nyeri tubuh. Posisi ideal yakni layar monitor harus sejajar dengan pandangan lurus mata Anda.

Karena mata kita secara alamiah biasanya akan selalu turun ke bawah, itulah posisi terbaik untuk merelaksasikan mata agar tidak tegang dan berujung pada sakit kepala, menurut Hope Ricciotti MD. penulis buku bertajuk The Real Life Body Book.

Berdasarkan sebuah penelitian, posisi itu dikemukakan dapat meningkatkan produktivitas dan performa kerja. Adapun untuk posisi tubuh terbaik saat berhadapan dengan komputer yakni:

1. Lengan: Letakkan lengan sejajar membentuk sudut 90 derajat saat mengetik. Ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan tinggi bangku Anda.

2. Pundak: Sebisa mungkin buat pundak Anda santai dengan menjatuhkannya. Bila posisi pundak membuat leher Anda meringkuk, berarti bangku Anda terlalu rendah. Untuk itu, sesuaikanlah tinggi bangku

3. Kaki: Buatlah kedua telapak kaki menjejak lantai saat Anda duduk. Apabila tidak sampai ke lantai, taruhlah buku atau kotak di lantai.

4. Punggung: Bersandar terlalu ke belakang dapat menimbulkan nyeri pada punggung. Seharusnya, tulang punggung bagian bawah menyentuh bagian siku kursi. Jika tidak sampai, taruhlah bantal kecil dan letakkan di bagian bawah punggung.

NFA, KF

Ketamine Lebih Menjanjikan untuk Mengatasi Depresi

Ketamine Lebih Menjanjikan untuk Mengatasi Depresi Ketamine semula didesain sebagai anestesi, obat penenang, sempat dikategorikan obat kelas C dan bahkan dilarang dikonsumsi pada 2006. Namun, kini obat yang juga dikenal dengan julukan 'Special K', menurut para peneliti, memiliki khasiat yang ajaib terhadap pemulihan pasien dari depresi.

Obat ini terbukti bekerja dengan cepat mendorong regenerasi hubungan sinaptik antarsel saraf pada otak. Maka itu, tak mengeherankan bila para peneliti berharap obat ini nantinya dapat memberikan arah kepada pengobatan antidepresan yang lebih baik lagi.

Dari uji coba yang telah dilakukan, terlihat bahwa pasien depresi yang mengalami resistansi terhadap semua jenis pengobatan dan perawatan mengalami kemajuan setelah mengasup ketamine. Obat ini sebenarnya bukanlah bagian dari terapi praktis karena mesti diberikan melalui urat nadi sebagai antidepresan dan dapat menyebabkan gejala psikotik jangka pendek.

Meski begitu, para peneliti mengatakan ketamine dapat berfungsi sebagai panduan untuk pengobatan baru yang lebih menjanjikan untuk mengatasi depresi. "Ketamine bisa diibaratkan layaknya obat ajaib," kata Profesor Ronald Duman, psikiater dari Universitas Yale. "Satu dosis ketamine dapat bekerja dengan cepat dan efeknya dapat berlangsung hingga 10 hari."

Kebanyakan obat antidepresan seperti Prozac membutuhkan waktu sekitar satu minggu bahkan bulan untuk merasakan khasiatnya, sedangkan ketamine hanya membutuhkan beberapa jam. Penelitian tim Prof Duman ini juga telah dimuat dalam jurnal Science.
 
NFA, KF

Asetaminofen mungkin Berperan dalam Meningkatnya Jumlah Penderita Asma di Dunia

Asetaminofen mungkin Berperan dalam Meningkatnya Jumlah Penderita Asma di DuniaPada dua penelitian, diketahui bahwa asetaminofen, obat analgesik dan antipiretik yang populer dan digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal, dan demam mungkin berperan dalam meningkatnya jumlah penderita asma di dunia.

Menurut sebuah penelitian, asetaminofen dianggap bertanggung jawab atas empat dari 10 kasus asma pada remaja. Sementara itu, pada penelitian yang lain, ditemukan bahwa untuk pertamakalinya anak penderita asma ternyata sebelumnya kerap meminum astaminofen sebelum timbul gejala penyakit tersebut. "Kami membenarkan bahwa mereka terlebih dahulu mengonsumsi asetaminofen sebelum mengidap asma," kata Dr Alemayehu Amberbir dari Universitas Addis Ababa di Ethiopia dan Universitas Nottingham di Inggris.

Namun, menurut Amberbir, memang dibutuhkan penelitian dalam skala yang lebih besar guna memastikan hal ini sebelum semua orang menyingkirkan asetaminofen dari lemariobat mereka. Penemuan ini telah dimuat pada American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. Tim Amberbir telah melakukan pemantauan terhadadap 1.000 bayi Ethiopia selam tiga tahun terakhir. Ketika bayi-bayi itu mulai besar, para ibu ditanyakan apakah anak mereka memiliki masalah dalam bernapas dan berapa banyak dosis asetaminofen yang telah diasup.

Sekitar 8 persen anak mulai mengalami sesak napas saat usia 1 dan 3 tahun. Mereka yang telah meminum asetaminofen di umur-umur awal, ternyata 7 kali lipat berisiko mengalami sesak napas. Gejala demam dan batuk pada anak akan berujung pada gejala sesak napas atau penggunaan astaminofen.

"Yang kami miliki kini adalah informasi mengenai kaitan antara penggunaan asetaminofen dan asma," kata Dr Dipak Kanabar, penulis pandua penggunaan asetaminofen yang tak terlibat dalam penelitian. Ia menambahkan, "Kita harus berhati-hati ketika memberikan saran kepada para orang tua. Karena, studi ini bukan memastikan bahwa asetaminofen merupakan penyebab asma pada anak."

Namun, apabila nantinya memang terbukti bahwa asetaminofen merupakan penyebab asma pada anak, kata Kanabar, ini tentunya akan sangat memengaruhi kesehatan publik.

NFA, KF

Autisme Lebih Rentan Diderita Anak Laki-laki

Autisme Lebih Rentan Diderita Anak Laki-lakiSebuah studi terbaru memberikan penjelasan lebih mengapa anak laki-laki lebih rentan terdiagnosis menderita autisme ketimbang anak perempuan.

Penelitian terbaru oleh Pusat Penanganan Kesehatan Mental dan Kecanduan (CAMH) dan Rumah Sakit untuk Anak (SickKids) yang berbasis di Toronto, Kanada, menemukan bahwa pria yang memiliki DNA yang membawa suatu perubahan spesifik pada kromososm X-nya sehingga memiliki risiko lebih besar mengidap autism spectrum disorder (ASD).

ASD adalah gangguan neurologi yang memengaruhi fungsi otak sehingga menyebabkan kelainan dalam berkomunikasi dalam interaksi sosial, perilaku yang tak wajar, dan kurang mampu berpikir jernih. ASD menyerang satu dari 120 anak dan khususnya menyerang satu dari 10 anak laki-laki.

Meski penyebab umum ASD belum dapat diketahui, beberapa hasil penelitian tampaknya menunjuk pada faktor genetik. Dan, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa gen penyebab ASD telah dapat diidentifikasi.

Tim peneliti yang diketuai Dr John B Vincent menganalsis gen sekitar 2.000 orang yang mengidap ASD dikaitkan dengan faktor lain seperti kecerdasan intelektual lalu dibandingkan dengan ribuan populasi lainnya. Mereka menemukan bahwa 1 persen anak laki-laki yang mengidap ASD, pada gennya, terdapat mutasi PTCHD1 di kromosom X.

Mutasi itu tak ditemukan pada anak laki-laki pada umumnya. Namun, saudara perempuan yang sebenarnya juga membawa gen itu tampaknya malah tak terpengaruh.

"Kami percaya bahwa gen PTCHD1 memiliki peran dalam sistem neurobiologis yang berperan memberikan informasi ke sel selama masa pertumbuhan otak anak. Mutasi itu dapat mengganggu proses perkembangan yang penting dan dapat memicu autisme. Penemuan kami ini kan memungkinkan adanya deteksi awal sehingga meminimalkan gangguan itu," kata Dr Vincent.

NFA, KF

Khasiat Tanaman Brokoli dalam Melawan Serangan Radang Sendi

Khasiat Tanaman Brokoli dalam Melawan Serangan Radang SendiBerdasarkan penelitian laboratorium yang dilakukan para ilmuwan di Universitas East Anglia (UEA), terbukti bahwa sulforaphane mampu menghalau enzim penyebab rusaknya otot yang menyebabkan osteoarthritis, yakni penyakit radang sendi paling umum. Sebuah uji coba terbaru tengah digelar para ilmuan dalam rangka meneliti khasiat tanaman brokoli dalam melawan serangan radang sendi atau (osteoarthritis).

Brokoli (Brassica oleracea) adalah sayuran yang termasuk suku kubis-kubisan dan berasal dari daerah Laut Tengah dan telah dibudidayakan sejak masa Yunani Kuno. Sayuran ini mulai dikenal di Tanah Air pada 1970-an dan kini cukup populer sebagai salah satu bahan pangan.

Sebagai makanan, brokoli biasanya disajikan dengan direbus atau dikukus, bisa juga dimakan mentah. Namun, cara terbaik mengolah brokoli adalah dengan dikukus agar semua vitamin dan nutrisi penting di dalamnya tidak hilang selama proses pemasakan. Adapun merebus brokoli akan menghilangkan sekitar 50 persen asam folat yang terkandung di dalamnya. Karena itu, jika ingin mengolah brokoli dengan cara direbus, sebaiknya brokoli tidak direbus terlalu lama, kira-kira jangan lebih dari 5 menit.

Brokoli mengandung vitamin C dan serat dalam jumlah banyak. Selain itu, brokoli mengandung senyawa glukorafanin yang merupakan bentuk alami senyawa antikanker sulforaphane. Dalam penelitian sebelumnya, brokoli juga ditengarai mampu mengurangi risiko terkena kanker. Namun, ini adalah pertama kalinya brokoli diketahui memiliki efek terhadap radang sendi.

Uji coba ini nantinya akan mempelajari bagaimana sulforaphane dapat memperlambat atau mencegah perkembangan osteoarthritis. Tim ilmuwan yang tengah mempersiapkan para sukarelawan berharap dapat menemukan cara baru pencegahan dan penyembuhan nyeri akibat radang sendi.

Osteoartritis, dikenal juga sebagai artritis degeneratif atau penyakit degeneratif sendi, adalah kondisi di mana sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi. Sementara itu, sulforaphane adalah zat bioaktif yang dikandung beberapa sayuran, terutama brokoli.

Memakan brokoli dapat meningkatkan jumlah sulforaphane dalam darah. Tetapi, para ilmuwan belum dapat memastikan kadar sulforaphane yang cukup untuk dimasukkan ke sendi. Hal itulah yang kini tengah diteliti oleh para ilmuwan UEA.

NFA, KF

Status Nutrisi dan Dampaknya pada Pasien Kanker Gastrointestinal yang Menjalani Pembedahan

Status Nutrisi dan Dampaknya pada Pasien Kanker Gastrointestinal yang Menjalani PembedahanSudah sejak lama diketahui bahwa kondisi malnutrisi yang terjadi pada pasien kanker akan memperburuk prognosis, setidaknya hal tersebut telah terungkap pada tahun 1980 di American Journal of Medicine dan beberapa publikasi setelahnya. Namun belakangan tidak banyak publikasi penelitian yang menilai permasalahan malnutrisi pada pasien kanker.

Baru – baru ini dalam Journal of Human Nutrition and Diuretics 2010, kembali mengungkapkan permasalahan malnutrisi dan dampaknya, namun spesifik pada 95 (n) pasien kanker saluran cerna bagian atas dan kolorektal yang menjalani pembedahan. Parameter yang dinilai adalah perubahan berat badan, asupan nutrisi, biokimia, komplikasi post-operasi, serta lama rawat inap. Hasilnya adalah sebagai berikut :
  • Rerata lama rawat inap secara bermakna lebih lama pada pasien yang mengalami penurunan berat badan pre-operasi dibandingkan yang tidak mengalami penurunan berat badan (17,0 vs 10,0 hari; p<0,05).
  • Rendahnya kadar albumin dan penurunan berat badan post-operasi juga menjadi faktor prediktif meningkatnya rerata lama rawat inap.
  • Pasien dengan malnutrisi mengalami rawat inap dua kali lebih lama / sering dibandingkan pasien tanpa malnutrisi (15,8 vs 7,6 hari; p<0,05)
  • Waktu yang dibutuhkan (6,9 [3,6] hari) untuk mencapai nutrisi post-operasi yang memadai berkorelasi positif terhadap lamanya masa rawat inap (p<0,01), dan berkorelasi negatif terhadap perubahan berta badan post-operasi (p<0,05) serta peningkatan risiko terjadinya komplikasi (52% vs 13%; p<0,01).
Malnutrisi merupakan kondisi yang sering terjadi pada pasien kanker gastrointestinal yang menjalani pembedahan. Status nutrisi yang buruk bersama nutrisi pasca operasi yang terlambat serta tidak memadai berhubungan dengan perburukan hasil akhir klinis.

Dari penelitian tersebut, terungkap bahwa penurunan berat badan, baik yang terjadi pre- maupun post-operasi pada pasien kanker saluran cerna berhubungan dengan hasil akhir klinis yang lebih buruk. Lebih lama serta lebih seringnya rawat inap yang terjadi pada pasien malnutrisi tersebut tentu berdampak langsung terhadap kualitas hidup, komplikasi rawat inap (misal, infeksi nosokomial), hingga biaya terapi. Hasil penelitian ini semakin menguatkan akan pentingnya mencukupi kebutuhan nutrisi pada pasien kanker.

LHS, KF

Ekstrak Grape Seed Mempunyai Efek Bakterisidal Terhadap MRSA

Ekstrak Grape Seed Mempunyai Efek Bakterisidal Terhadap MRSAGrape seed extract/GSE (Vitis vinifera)  diketahui kaya akan polifenol, yang mempunyai aktivitas terapi seperti imunomodulator, antioksidan, antimutagenik, antibakteri dan analog hormon. Lebih lanjut, GSE merupakan sumber yang kaya bioflavonoid yang dikenal dengan grape seed proanthocyanidines extract (GSPE). Senyawa fenol telah diketahui kemampuannya dalam merusak sel mikroba dengan mengubah permeabilitas selektif membran plasma, yang menyebabkan kebocoran substansi penting intraseluler. 
GSE ternyata dapat menghambat aktivitas dihidrofolat reduktase dan pertumbuhan Staphylococcus aureus dimana S. aureus merupakan salah satu patogen yang paling sering menyebabkan infeksi dan penyakit yang ditularkan melalui makanan. Kandungan intraseluler tetrahidrofolat yang merupakan jenis folat yang terindentifikasi dalam S.aureus secara bermakna juga menurun jika GSE terpapar oleh GSE.  
Tahun 2008, Peng dkk telah menunjukkan aktivitas GSE terhadap patogen gram positif termasuk methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Suatu studi terbaru juga telah dilakukan untuk menilai aktivitas antibakteri GSE terhadap MRSA.
Menurut Centers for Disease Control, MRSA merupakan jenis bakteri gram positif yang sering menyebabkan infeksi kulit, pneumonia, septiemia, dan abses dalam, tetapi tidak berespon terhadap kebanyakan antibiotika. 
Ekstrak biji dan kulit anggur tersebut telah diuji aktivitasnya terhadap 43 strain MRSA dengan studi difusi gel, pertumbuhan dan respirometrik. Hasilnya menunjukkan bahwa semua strain MRSA ditemukan sensitif terhadap GSE. Penghambatan lengkap semua strain bakteri ditemukan pada konsentrasi ekstrak prontosianidin biji anggur mentah (GSPE) 3 mg/mL, yang ekuivalen dengan flavonoid 20,7 mikrogram/mL. Aktivitas antibakteri bersifat bakterisidal yang ditunjukkan dengan kerusakan dinding sel bakteri dalam pemeriksaan scanning dan mikroskop elektron transmisi. Penemuan aktivitas antibakteri dalam GSE dapat mempunyai makna dalam kemajuan terapi penyakit infeksi yang disebabkan oleh MRSA.

EKM, KF

Thalidomide Memperbaiki Transaminase dan TNF-alfa Pasien Hepatitis C Kronik - Sebuah Studi Awal.

Thalidomide Memperbaiki Transaminase dan TNF-alfa Pasien Hepatitis C Kronik - Sebuah Studi Awal.Walau pengobatan HCV kronik saat ini telah dapat dilakukan yaitu dengan terapi kombinasi IFN (interferon) ataupun Peg-IFN dangan ribavirin, namun efektivitas klinisnya (respon rate) kombinasi tersebut masih relatif rendah. Seperti diketahui bersama SVR (sustained virological response) dari kombinasi IFN dan ribavirin hanya sekitar 32% dan sedikit meningkat dengan kombinasi Peg-IFN dan ribavirin. Sekitar  40 – 50% HCV kronik yang diberikan terapi kombinasi IFN dan ribavirin tidak memberikan efek  (non-responder) dan terjadi kekambuhan.
Thalidomide yang merupakan penghambat produksi TNF-alfa selektif pada monosit akibat dirangsang oleh lipopolisakarida dan agonis yang lain. Penghambatan produksi TNF-alfa ini sebesar 40% dengan dosis  1 mcg/ ml.  Namun sitokin lainnya seperti: interleukin 1 beta (IL-1 beta), IL-6, dan  granulocyte/macrophage colony-stimulating factor (GCSF) yang dihasilkan oleh monosit tidak dipengaruhi juga. Selektivitas penghambatan thalidomide terhadap TNF-alfa ini memberikan keuntungan dalam perkembangan penggunaan klinisnya.
Dengan adanya pengambatan terhadap  produksi TNF-alfa ini, thalidomide akan bersifat  sebagai imunomodulator, dan dilain pihak adanya kemampuan stumulasi sel T CD8+ manusia. Dengan adanya efek tersebut memberikan keuntungan salah satunya untuk penggunaan pada kasus infeksi hepatitis C kronik yang  “non-responder” dengan terapi standar kombinasi IFN dan ribavirin.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Milazzo L. dkk., dan dipublikasikan dalam American Journal Gastroenterology memberikan gambaran manfaat thalidomide untuk kasus infeksi hepatits C kronik. Adapun tujuan studi tersebut untuk menilai efektivitas dan keamanan pemberian thalidomide yang diberikan selama 24 minggu dengan dosis 200 mg/ hari untuk HCV non-responden IFN dan ribavirin. Dari sudi tersebut terlihat terjadinya penurunan aminotransferase serum dan glutamyltransferases sebesar masing-masing 39% dan 61%, (p= 0.017 and 0.02). Penurunan produksi TNF-alfa oleh sel mononuclear ditunjukkan dari studi Sampaio EP., dkk. yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Medicine. Perforin- dan granzyme-specific mRNA meningkat namun tidak bermakna pada pemberian thalidomide. Adanya korelasi yang positif anatar parameter biokimia dengan imunologi, dengan peningkatan nilai granzyme dan perforin pada pasien yang menunjukkan penurunan enzim aminotransferase. Secara umum thalidomide ditoleransi dengan baik. 
Dari studi tersebut menunjukkan thalidomide mampu menurunkan enzim hati 7 dari 8 pasien HCV kronik dan menurunkan produksi TNF-alfa, yang menggambarkan sebagai harapan untuk terapi baru HCV kronik.

KTW, KF

Kamis, 15 September 2011

Studi pada Hewan Coba, Probiotik Membantu Fungsi Organ Hati

Studi pada Hewan Coba, Probiotik Membantu Fungsi Organ Hati
Manfaat suplemen probiotik tidak henti-hentinya untuk terus digali dan digali, dari yang pada awalnya digunakan dalam membantu kesehatan saluran cerna, kini eksplorasi manfaatnya  telah merambah pada kasus alergi, penurun kolesterol hingga pengontrol berat badan.
Dari hasil penelitian terbaru kembali terungkap bahwa probiotik membantu berbagai fungsi organ termasuk hati. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Sandrine Claus dari Imperial College of London yang mempublikasikan hasil penelitiannya dalam Jurnal American Society for Microbiology. Secara umum mekanisme tersebut terjadi karena  mikroflora di dalam usus meningkatkan laju kapasitas metabolisme dari inangnya dalam mengolah zat nutrisi dan obat serta memodulasi kerja berbagai organ melalui jalur yang beragam.
Dari penelitian ini, Claus memaparkan tikus yang bebas kuman untuk tidur pada tempat yang sebelumnya digunakan oleh tikus lain yang tubuhnya terkontaminasi dengan mikroflora/bakteri baik. Kemudian, tikus-tikus ini dievaluasi selama 20 hari seiring mikroflora tersebut berkolonisasi dengan bakteri usus untuk kemudian dievaluasi perubahan metabolisme yang terjadi.
Pada lima hari pertama setelah paparan dari mikroflora, tikus-tikus mengalami peningkatan berat badan sebesar 4 %. Kolonisasi dari bakteri baik ini juga memicu beberapa proses di hati yang melibatkan konversi dari glukosa menjadi glikogen dan lemak untuk digunakan sebagai simpanan energi jangka pendek dan panjang. Kolonisasi ini juga juga secara kuat menstimulasi ekspresi dan aktivitas dari enzim esensial yang bernama sitokrom P450 3A11 yang berperan penting pada jalur detoksifikasi obat.
Temuan ini merupakan data eviden in vivo pertama yang menunjukkan hubungan antara keberadaan bakteri baik dengan metabolisme lemak serta menjadi pandangan baru terkait peran probiotik dalam mekanisme sistemik fisiologis tubuh.

DHS, KF

Manfaat Kemoterapi Pasca-operasi pada Manula Pengidap Kanker Paru

Manfaat Kemoterapi Pasca-operasi pada Manula Pengidap Kanker ParuPemberian kemoterapi adjuvan pada pasien kanker paru jenis bukan sel kecil stadium IB - III (non-small cell lung cancer, NSCLC) terlihat meningkatkan relapse-free dan overall survival pada beberapa uji klinis. Namun, usia median pasien pada uji klinis tersebut berkisar antara 59 hingga 61 tahun. Belum diketahui pasti apakah pasien berusia lebih lanjut juga memperoleh manfaat terhadap pemberian kemoterapi pasca-operasi (sebagai terapi adjuvan).
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukan studi kohort observasional yang melibatkan 3324 pasien NSCLC stadium II-IIIA berusia ≥65 tahun dari Surveillance Epidemiology and End Results (SEER) database tahun 1992 - 2005. Sebanyak 21% (n = 684) dari pasien tersebut mendapat kemoterapi berbasis platinum pasca-operasi. Analisis terhadap data awal menunjukkan tidak ada perbedaan faktor demografis di antara pasien yang mendapat kemoterapi dengan yang tidak mendapat kemoterapi.
Terpantau peningkatan harapan hidup pada pasien stadium II dan IIIA yang mendapat kemoterapi (hazard ratio 0,80; 95% CI, 0,72 – 0,89). Detil regimen kemoterapi tidak dinilai. Analisis berdasarkan stratifikasi usia menunjukkan bahwa manfaat peningkatan harapan hidup tersebut hanya terpantau pada kategori pasien berusia <70 tahun dan 70 – 79 tahun, tetapi tidak pada pasien berusia ≥80 tahun. Insidens rawat inap akibat efek samping serius lebih tinggi pada pasien yang mendapat kemoterapi dibandingkan yang tidak (13,0% vs 6,9%) dengan odds ratio 2,0 (95% CI, 1,5 – 2,6). Manfaat pemberian kemoterapi juga terpantau pada pasien yang mendapat radioterapi maupun yang tidak mendapat radioterapi.
Simpulannya, kemoterapi adjuvan berbasis platinum berhubungan dengan penurunan mortalitas dan peningkatan efek samping serius pada manula pengidap NSCLC stadium II-IIIA. Besarnya manfaat sebanding dengan yang terpantau pada uji klinis acak.

LHS, KF